Hari ini, masyarakat Nias terbiasa mengartikan raya sebagai selatan dan yöu1)Dalam dialek Nias Selatan, yöu diucapkan dan ditulis sebagai löu. Dalam tulisan ini löu akan digunakan saat merujuk pada praktik penamaan di desa-desa nias selatan sebagai utara. Makna ini sudah telanjur mapan; ia tertulis di kamus, buku, bahkan dalam cara orang Nias sendiri menjelaskan wilayah dan identitas mereka. Orang dari wilayah selatan disebut niha raya. Dialek dari wilayah utara disebut li niha yöu. Seakan-akan, sejak dulu keduanya memang padanan langsung untuk arah mata angin modern.

Tapi benarkah demikian? Jika kita memperhatikan orientasi ruang di kampung-kampung tradisional Nias Selatan, pengertian tentang raya dan yöu yang selama ini diyakini justru mulai menunjukkan celahnya.

Ketika Gerbang Tidak Menghadap ke Arah yang Seharusnya

Di banyak desa tradisional Nias, terutama di wilayah Nias Selatan, terdapat sebuah gerbang atau jalan masuk yang disebut bawagöli, yang menandai ambang antara dunia luar dan ruang internal komunitas. Bawagöli bukan sekadar elemen arsitektur: prosesi adat melewatinya, tamu dan warga masuk melaluinya, dan orientasinya terhadap jalan, sungai, bukit, atau desa tetangga menawarkan petunjuk tentang bagaimana kampung itu berhubungan dengan dunia di luarnya.

Gerbang-gerbang ini masih dikenal oleh warga desa sebagai bawagöli raya dan bawagöli löu, penamaan yang masih hidup dalam praktik sehari-hari. Dalam pemahaman umum hari ini, nama-nama itu tak jarang diartikan sebagai “gerbang selatan” dan “gerbang utara.” Namun ketika orientasi fisik kedua gerbang itu diperiksa, pembacaan tersebut mulai goyah.

Untuk memeriksa ini lebih teliti, kita dapat mengambil beberapa desa di Nias Selatan sebagai sampel: Hilisimaetanö dan Bawömataluo misalnya, keduanya adalah desa tradisional yang masih memiliki bawagöli yang dapat diidentifikasi posisinya. Di Hilisimaetanö, bawagöli raya menghadap ke arah Tenggara, sementara bawagöli löu menghadap ke Barat Laut. Di Bawömataluo, bawagöli raya menghadap ke Timur Laut, dan bawagöli löu ke Barat Daya2)Pengukuran orientasi bawagöli dilakukan menggunakan fitur pengukuran heading pada Google Earth Web berdasarkan citra satelit tahun 2026. Angka dalam kurung menunjukkan derajat dari utara searah jarum jam: 0° = utara, 90° = timur, 180° = selatan, 270° = barat..


Pola ini konsisten di seluruh desa yang diperiksa: tidak satupun bawagöli raya menghadap ke selatan, dan tidak satupun bawagöli löu menghadap ke utara. Ini setidaknya menunjukkan bahwa terjemahan selatan dan utara mungkin tidak cukup untuk menjelaskan sistem penamaan ini sepenuhnya.

Menelusuri Catatan Kolonial

Keganjilan ini mendorong kita untuk menelusuri lebih jauh: dari mana sebenarnya terjemahan raya berarti “selatan” dan yöu berarti “utara” berasal? Catatan-catatan kolonial abad ke-19 menunjukkan bahwa terjemahan ini sudah beredar sejak lama. Dalam Niasch-Maleisch-Nederlandsch Woordenboek (1887)3)Lihat kata pengantar dalam J. W. Thomas and E. A. Taylor Weber, Niasch-Maleisch-Nederlandsch Woordenboek (Batavia: Landsdrukkerij, 1887). Kamus yang diterbitkan pada tahun 1887 ini awalnya dimaksudkan untuk membantu administrasi tentara Hindia Belanda dalam memberikan instruksi atau pelatihan kepada orang-orang Nias yang direkrut menjadi tentara dan sebagai alat komunikasi untuk menjembatani kendala bahasa antara instruktur (yang menggunakan bahasa Belanda/Melayu) dengan rekrutan dari Nias. yang disusun oleh J.W. Thomas dan E.A. Taylor Weber, istilah raja sudah dicatat dengan padanan "selatan" dan jōoe dengan padanan "utara"4)Dalam entri kamus Thomas dan Weber, istilah untuk selatan ditulis sebagai Raja (dan si raja), sedangkan utara ditulis sebagai Jōoe (dan si jōoe). Meskipun menggunakan ejaan lama peninggalan abad ke-19, secara fonetik kedua istilah tersebut seharusnya dibaca dan dipahami sebagai Raya dan Yöu dalam bahasa Nias modern.

Modigliani, yang mengunjungi Nias pada tahun yang sama, juga mencantumkan rāia dan giōu sebagai padanan untuk selatan dan utara ketika membahas niha raia.5)Elio Modigliani, Un Viaggio a Nías (Milano: Fratelli Treves, 1890), 402. Pada halaman ini, Modigliani mencatat kisah peperangan dengan Niha Raia yang dituturkan oleh narasumbernya, sekaligus menjelaskan bahwa dalam bahasa Nias, istilah Giou, Raia, Atumbúcha, dan Aechúla Luo berpadanan dengan istilah Melayu Utara, Selatan, Timur, dan Barat.

Kata raya dan yöu di Niasch-Maleisch-Nederlandsch Woordenboek (1887)

Kata raya dan yöu di Niasch-Maleisch-Nederlandsch Woordenboek (1887)

Namun dalam Niassisch-Deutsches Wörterbuch (1905) karya Sundermann, sesuatu yang menarik tampak. Entri raja tidak hanya dicatat sebagai “südlich” (selatan), tetapi juga sebagai “am Oberlaufe eines Flusses,” (di bagian hulu sungai). Demikian pula jöoe, yang dicatat sekaligus sebagai “nördlich” (utara) dan “flussabwärts,” (ke arah hilir). Dua makna itu hadir berdampingan dalam satu entri, tanpa penjelasan mana yang lebih tua atau lebih mendasar. Sundermann tampaknya merekam sebuah ambiguitas yang sudah ada, tanpa merasa perlu mempersoalkannya lebih jauh.
Kata raya dan yöu di Niassisch-Deutsches Wörterbuch (1905)

Kata raya dan yöu di Niassisch-Deutsches Wörterbuch (1905)

Ambiguitas itu muncul kembali, pada nyanyian Hoho niha raja ba zi mate yang dicatat Lagemann6)Heinrich Lagemann (1851–1933) adalah misionaris Jerman dari Rhenish Missionary Society (RMG) yang bertugas di Nias sejak 1882. Ia mendirikan pos misi di Lahagu, Nias Tengah pada tahun 1893, wilayah yang secara linguistik dan geografis relevan dengan nyanyian yang ia catat lima belas tahun kemudian. dari desa-desa Nias Tengah pada tahun 1908 dan dianalisis lebih lanjut oleh Thomsen (1981)7)Thomsen, Martin. “Ein Totengesang von der Insel Nias.” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 137, no. 4 (1981): 443-455.. Nyanyian ini diberi judul menggunakan istilah niha raja, yang lazimnya diterjemahkan sebagai “orang Nias Selatan.” Namun secara linguistik, nyanyian itu justru termasuk dalam dialek Nias Tengah, bukan dialek Nias Selatan. Thomsen sendiri mencatat anomali ini tanpa mengajukan penjelasan lebih jauh.

Catatan Schröder dan Hulu-Hilir

Schröder, dalam Nias (1917)8)E.E.W.G. Schröder, Nias: Ethnographische, geographische en historische aanteekeningen en studiën (Leiden: E.J. Brill, 1917). Karya dua jilid ini merupakan salah satu studi etnografis, geografis, dan historis paling komprehensif tentang Nias yang dihasilkan pada periode kolonial., justru sampai pada akar persoalan ini. Ia mencatat bahwa makna harfiah raya adalah hulu sungai, bukan selatan. Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa orang Nias secara tradisional hanya mengenal dua sumbu orientasi utama: terbit dan terbenamnya matahari (aekhula dan atumbukha), serta hulu dan hilir. Konsep empat mata angin dalam pengertian modern bukan bagian dari sistem orientasi asli mereka. Terjemahan raya sebagai “selatan” terjadi karena kebetulan geografis: di sejumlah daerah seperti Muzöj dan Lafàu, arah hulu memang bertepatan dengan arah selatan, sehingga kedua makna itu lama-kelamaan saling menggantikan. Schröder bahkan secara eksplisit mencatat bahwa di Bawömataluo, raya digunakan untuk menunjuk ke arah pedalaman yang dalam hal ini adalah mengarah ke timur laut, bukan selatan.9)Schröder, Nias, hlm. 78

Jika penjelasan Schröder diterima, pengukuran orientasi bawagöli di desa-desa yang diperiksa memperoleh koherensi yang sebelumnya tidak tampak. Bawagöli raya di Bawömataluo menghadap ke timur laut bukan karena kesalahan penamaan, melainkan karena ia menghadap ke arah pedalaman, ke arah hulu. Dengan begitu, orientasi gerbang yang semula tampak tidak konsisten justru menjadi masuk akal: masing-masing desa memiliki hulu dan hilirnya sendiri, ditentukan oleh topografi sungai di sekitarnya. Data dari sembilan desa pada tabel sebelumnya secara konsisten menunjukkan bahwa raya dan yöu tidak bekerja sebagai arah absolut yang seragam, melainkan sebagai penanda relasional yang maknanya bersandar pada topografi lokal masing-masing desa.

Perlu dicatat pula bahwa hulu sungai, dalam konteks geografis kepulauan seperti Nias, hampir selalu berimpit dengan tiga kondisi sekaligus: ia adalah arah ke pedalaman, arah ke tempat yang lebih tinggi, dan arah yang menjauhi pantai serta laut. Jika raya memang berakar pada konsep hulu, maka ia bukan sekadar penanda aliran air, melainkan penanda orientasi yang lebih luas, yang menunjuk ke arah interior pulau, ke dataran yang lebih tinggi, dan menjauh dari garis pesisir.

Sebuah Makna Terlupakan

Implikasi dari argumen ini tidak berhenti pada penamaan gerbang. Istilah niha raya sendiri, yang selama ini diterjemahkan sebagai “orang Nias Selatan,” layak mendapat pembacaan ulang dengan logika yang sama. Jika raya merujuk pada hulu dan bukan pada selatan, maka niha raya boleh jadi bukan sebutan untuk “orang Nias Selatan” dalam pengertian administratif modern, melainkan untuk orang-orang yang tinggal di wilayah hulu, di interior pulau, di dataran yang lebih tinggi, atau mereka yang tinggal menjauh dari garis pesisir. Ini setidaknya konsisten dengan kenyataan bahwa banyak desa di kawasan Nias Tengah berada di daerah hulu sungai, dan bahwa nyanyian hoho yang diberi label niha raya oleh Lagemann justru berasal dari sana, sebuah detail yang meski belum cukup untuk menjadi bukti, setidaknya konsisten dengan hipotesis ini.

Terjemahan raya dan yöu sebagai “selatan” dan “utara” tampaknya bukan kekeliruan yang tiba-tiba, melainkan sebuah pergeseran yang berlangsung perlahan: makna topografis yang berakar pada orientasi hulu dan hilir, lama-kelamaan tergantikan oleh kategori mata angin yang lebih akrab bagi para pengamat luar, hingga akhirnya makna asalnya sendiri nyaris terlupakan bahkan oleh penutur aslinya.

Catatan kaki:

Catatan kaki:
↑1 Dalam dialek Nias Selatan, yöu diucapkan dan ditulis sebagai löu. Dalam tulisan ini löu akan digunakan saat merujuk pada praktik penamaan di desa-desa nias selatan
↑2 Pengukuran orientasi bawagöli dilakukan menggunakan fitur pengukuran heading pada Google Earth Web berdasarkan citra satelit tahun 2026. Angka dalam kurung menunjukkan derajat dari utara searah jarum jam: 0° = utara, 90° = timur, 180° = selatan, 270° = barat.
↑3 Lihat kata pengantar dalam J. W. Thomas and E. A. Taylor Weber, Niasch-Maleisch-Nederlandsch Woordenboek (Batavia: Landsdrukkerij, 1887). Kamus yang diterbitkan pada tahun 1887 ini awalnya dimaksudkan untuk membantu administrasi tentara Hindia Belanda dalam memberikan instruksi atau pelatihan kepada orang-orang Nias yang direkrut menjadi tentara dan sebagai alat komunikasi untuk menjembatani kendala bahasa antara instruktur (yang menggunakan bahasa Belanda/Melayu) dengan rekrutan dari Nias.
↑4 Dalam entri kamus Thomas dan Weber, istilah untuk selatan ditulis sebagai Raja (dan si raja), sedangkan utara ditulis sebagai Jōoe (dan si jōoe). Meskipun menggunakan ejaan lama peninggalan abad ke-19, secara fonetik kedua istilah tersebut seharusnya dibaca dan dipahami sebagai Raya dan Yöu dalam bahasa Nias modern
↑5 Elio Modigliani, Un Viaggio a Nías (Milano: Fratelli Treves, 1890), 402. Pada halaman ini, Modigliani mencatat kisah peperangan dengan Niha Raia yang dituturkan oleh narasumbernya, sekaligus menjelaskan bahwa dalam bahasa Nias, istilah Giou, Raia, Atumbúcha, dan Aechúla Luo berpadanan dengan istilah Melayu Utara, Selatan, Timur, dan Barat.
↑6 Heinrich Lagemann (1851–1933) adalah misionaris Jerman dari Rhenish Missionary Society (RMG) yang bertugas di Nias sejak 1882. Ia mendirikan pos misi di Lahagu, Nias Tengah pada tahun 1893, wilayah yang secara linguistik dan geografis relevan dengan nyanyian yang ia catat lima belas tahun kemudian.
↑7 Thomsen, Martin. “Ein Totengesang von der Insel Nias.” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 137, no. 4 (1981): 443-455.
↑8 E.E.W.G. Schröder, Nias: Ethnographische, geographische en historische aanteekeningen en studiën (Leiden: E.J. Brill, 1917). Karya dua jilid ini merupakan salah satu studi etnografis, geografis, dan historis paling komprehensif tentang Nias yang dihasilkan pada periode kolonial.
↑9 Schröder, Nias, hlm. 78

Posted by D.K Dachi

A small piece, an -ism. No more, no less.

Tinggalkan Balasan